
Mutia Nur Azizah, Muhammad Nafish Irwansyah, Gita Herlina Sari
Raka pulang ke rumah saat jeda singkat kuliah. Ia tidak datang membawa rindu yang meledak-ledak—ia hanya ingin beristirahat. Namun, yang ia temukan justru rumah yang terasa asing: ruang tamu sunyi, obrolan yang pendek, dan sebuah sudut kosong dekat jendela yang menyimpan kardus-kardus buku seperti kenangan yang dibiarkan berdebu.
Berawal dari tugas kampus yang “terlalu personal”, Raka nekat mengubah sudut kosong itu menjadi pojok literasi keluarga. Rak darurat dari papan dan batu bata, buku-buku murah dari pasar loak, hingga aturan sederhana “sepuluh menit tanpa gawai” menjadi upaya kecil untuk mengundang keluarga duduk bersama—tanpa paksaan, tanpa ceramah.
Namun, membangun kebiasaan baru tidak pernah mudah. Ada adik yang menolak membaca karena pernah ditertawakan, ada remaja yang merasa buku kalah menarik dari layar ponsel, dan ada Ayah yang memilih diam saat hidup sedang menekan dari arah yang tak terlihat. Bahkan ketika listrik padam, mereka justru menemukan: dalam gelap, cerita bisa menyala lebih terang daripada lampu.
Pojok Literasi Keluarga adalah kisah hangat tentang upaya pulang—bukan hanya pulang ke rumah, tetapi pulang pada kebiasaan mendengar, berbagi, dan saling menjaga. Sebuah pengingat bahwa kadang, keluarga tidak butuh perubahan besar untuk mulai membaik… cukup satu sudut kecil, satu buku, dan sepuluh menit yang dijalani bersama.
Zahira Media Publisher © 2021